Oleh: Norliana Sari, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAIN Palangka Raya.
Pada akhir Desember 2019, dunia digemparkan oleh berhasil terditeksinya parian virus corona (baru) yang berasal dari Kota Wuhan di China yang menyebabkan penyakit pernapasan parah termasuk pneumonia. Awalnya virus ini disebut dengan Novel Coronavirus kemudian organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan bahasa berikut yang terkait dengan virus. Virus yang menyebabkan infeksi diberi nama - sindrom pernapasan akut parah coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau disebut COVID-19. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, penyebutan nama khusus itu penting guna mencegah penggunaan nama lain yang dapat tidak akurat atau menstigmatisasi.
Baca juga : Fenomena Fotografer Wedding vs HPgrafer pada Acara Pernikahan
COVID-19 tidak dapat dianggap remeh dan diabaikan terutama jika telah mengalami reaksi pada tubuh, walaupun seperti yang telah kita diketahui pada umumnya setiap tubuh memiliki fitur pelindung atau sistem imun masing-masing yang dapat melindungi tubuh dari serangan benda asing dari luar tubuh, sistem imun ini terbentuk dari kumpulan sel, jaringan dan organ yang berkerja sama dengan baik untuk menghindarkan serta melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Salah satu cara menjaga kekebalan sistem imun yaitu menjaga metabolisme tubuh yang merupakan proses pengolahan zat gizi dari makanan yang telah diserap oleh tubuh untuk diubah menjadi energi, selanjutnya energi tersebut digunakan dalam segala fungsi tubuh, seperti bernapas, berpikir, bertumbuh, hingga tiap gerakan saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Namun bagaimana cara mengetahui jika virus COVID-19 telah bereaksi pada tubuh yaitu dengan melihat pada genjala-genjala-awal yang dikeluarkan oleh tubuh pertama yaitu merasakan menggigil dan deman, menggigil terjadi dari akibat dari deman atau permulaan dari demam sedangkan demam terjadi oleh infeksi virus dan bakteri yang dapat merangsang tubuh untuk melepaskan bahan kimia dan zat untuk mencoba membebaskan tubuh dari penyakit akibatnya suhu tubuh akan mengalami kenaikan, kedua mengalami batuk yang merupakan cara tubuh untuk merespon sesuatu yang mengiritasi tenggorokan atau saluran pernafasan, batuk pada COVID-19 merupakan batuk kering berat dan berdahak dimana dahak tersebut seperti tertahan pada tenggorokan dan terjadi terus menerus, yang dapat menyebabkan sesak nafas dan nyeri pada dada karena terganggunya fungsi paru-paru dan penurunan pemasukan oksigen, ketiga tubuh menjadi Lemah karena kualitas pada imun yang menurun, keempat sakit pada otot atau badan dan sakit kepala yang disebabkan oleh infeksi virus setelah virus tersebut merangsang sistem kekebalan tubuh, kelima kehilangan kemampuan untuk merasa atau mencium bau dan hidung secara mendadak, keenam hidung tersumbat atau berair atau pilek secara tiba tiba dan menyebabkan kemampuan penciuman mengalami hilang fungsi yang lebih parah selain itu disertai hilangnya kemampuan indra pengecap kususnya pada rasa pahit dan manis. Ketujuh mual atau muntah umumnya terjadi karena penurunan nafsu makan, dan pengaruh sehabis meminum obat bagi penderita COVID-19, sehingga dianjurkan untuk memberi jeda waktu dalam meminum obat.
Pada COVID-19 Kebanyakan orang memiliki gejala ringan atau tidak ada gejala sama sekali, tetapi beberapa lainnya dapat mengalami dampak yang buruk, sehingga perlu mendapatkan perawatan di ICU terutama jika terjadi komplikasi penyakit lainya. Selain itu dampak COVID-19 juga dirasakan bagi seseorang yang telah dinyatakan sembuh dan negatif COVID diantaranya kemampuan penciuman masih samar-samar sehingga harus dilatih atau dibiasakan dengan menghirup aroma yang menyengat seperti aroma terapi, kemudian mengalami kerontokan pada rambut yang dipengaruhi tingkat stres dan kecemasan, sehingga harus melakukan perawatan, kebersihan pada rambut dan mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi dan mengonsumsi vitamin terutama vitamin C dan E yang penting bagi pertumbuhan, mengalami sesak nafas ringgan seperti tertahan sehingga harus dilakukan latihan relaksasi untuk memperbaiki pola pernapasan.
COVID-19, virus dengan penyebaran yang tidak memandang usia maupun gender, sehingga mewajibkan siapa saja untuk menjaga diri, penggambaran yang terjadi bagaikan proses seleksi alam dimana yang kuat dan pandai beradaptasi dapat bertahan dengan catatan harus dapat menjaga diri, terutama pada kesehatan tubuh dan memperkuat sistem imun serta mematuhi segala kebijakan yang berdampak pada keselamatan dan kebaikan bersama. walaupun sekarang kita menghadapi era pasca Covid-19, jangan jadikan itu alasan membuat kita lengah untuk selalu menjaga kesehatan, tapi jadikan itu pelajaran kehidupan tentang betapa pentingnya kesehatan, karena Kesehatan memberi kita kebebasan untuk mengejar impian, menjadi sukses, dan menjalani hidup sepenuhnya bersama orang yang kita sayangi. Kejayaan hidup akan terasa indah dengan fisik dan jiwa yang sehat.


Bagikan